Beberapa waktu ini aku sempat mengalami hal yang unik.
Untuk pertama kalinya ada seseorang yang memberikan judgment
negatif tentang diriku, di depan banyak orang.
Emosi pertama yang kurasakan adalah kaget dan sedih.
Untungnya emosi tersebut sudah reda, dan berhasil kukelola
dengan baik.
Itu tidak
menjadi rasa amarah dan agresi—yang sebenarnya ingin kuberikan, karena secara
manusia aku merasa hal tersebut menjengkelkan dan mengganggu.
Tetapi emosi tersebut menjadi rasa iba.
Inilah yang kupelajari tentang perspektif.
Perspektif bisa didapatkan dalam sekejap.
Perspektif seseorang ditangkap secara alam bawah sadar.
Sepersekian detik.
Ketika ada orang yang lewat depanmu, kamu langsung memiliki
gambaran apa yang kamu pikirkan.
Terutama, secara fisik.
Kalau misal ada orang yang berpenampilan fashionable.
Maka akan memunculkan perspektif bahwa: “Oh, orang ini suka
mengikuti trend.”
Kalau misal ada orang yang berpenampilan menarik, wangi.
Maka akan memunculkan perspektif bahwa: “Orang ini tahu cara
menempatkan diri.”
Pada intinya, perspektif dimulai dari apa yang kita pandang
dan kita olah berdasarkan apa yang kita pahami.
Terlebih lagi jikalau kita memiliki pemahaman lebih tentang
manusia.
Misalnya, aku memahami Psikologi.
Sehingga ketika seseorang lewat di depan saya bisa memiliki beberapa
perspektif.
Saya bisa mendapatkan gambaran kasar tentang “Siapa orang
itu sebenarnya”.
Tapi dalam jentikan jari, kita bisa memiliki perspektif
tentang orang tersebut.
Walaupun kebenarannya masih diragukan.
Mengapa?
Karena setiap orang punya perspektifnya masing-masing.
Ini adalah hal yang pasti.
Saat mengalami konflik, pastinya kita berpegang kepada
pandangan diri masing-masing.
Hal ini adalah hal yang standar, mengapa?
Karena kita ingin memiliki validasi bahwa apa yang kita
lakukan sudah benar.
Sayangnya, realita tidak didasarkan dari perspektif saja.
Realita harus dinilai dari fakta objektif yang didapatkan.
Bukan hanya perspektif yang dimiliki masing-masing orang.
Sehingga ketika terjadi sebuah konflik, hal pertama yang
harus dilakukan adalah memaparkan seluruh fakta lapangan yang terjadi.
Ini sulit, karena pastinya saat terjadi konflik, hal yang
pertama dilakukan ya membela diri melalui perspektif masing-masing.
Jangan berpegang pada perspektifmu sendiri.
Sebab pertanyaannya adalah: “Apakah iya benar? Jangan-jangan
memang aku yang salah.”
Hal tersebut akan membuatmu jadi lebih berhati-hati dan
membuka possibilities terhadap sebuah permasalahan.
Kebenaran pasti akan terungkap, dengan atau tanpa
perspektifmu.
Perspektif bisa menipu.
Emosi semata dapat membutakan apa yang menjadi perspektif
kita.
Sehingga jangan percaya langsung dengan perspektifmu.
Karena ada beberapa hal yang tidak bisa kita lihat secara
langsung dengan perspektif.
Perspektif lawan kita belum tentu salah.
Perspektif kita belum tentu benar.
Kesimpulan
Perspektif hanyalah cara memandang fakta, bukan sebuah
fakta.
Hanya sebagian kecil dari fakta yang bisa kita lihat dan
tidak bisa kita langsung pahami.
Hati-hati, jangan sampai mempermalukan dirimu karena
perspektifmu yang salah dalam memandang realita.
Jangan segan-segan mencari bantuan profesional jika memang
diperlukan.
Jika ada pertanyaan, silahkan sampaikan dan mari berdiskusi.
Semoga tulisan ini bermanfaat dan semoga kita dalam keadaan
baik.
Copyright disclaimer
Segala tulisan ini adalah buah pemikiran dari Samuel Dimas Suryono (samueldim). Tulisan ini dapat diproduksi dalam bentuk yang berbeda sesuai ijin dari penulis. Jika anda ingin memproduksi ulang, harap cantumkan sumber yang jelas bahwa anda terinspirasi oleh “samueldim.com” ataupun “@samueldim” ataupun “Samuel Dimas Suryono”. Terima kasih!
